Tak peduli seberapa enggak banget nya kamu di matamu sendiri, tapi aku tetap tak setuju.
Kamu tetap baik di mataku, dan hatiku..
Tetap jadi orang hebat, tetap membuat aliran darah menghangat saat kamu berbicara lantang
Kamu, tak usah terlalu mendengar apa kata sekitar tentang mü.
Karena mereka tak tahu siapa kamu..
Sabtu, 08 Oktober 2011
Buntu
Aku berjalan ke utara, dan kamu memilih arah selatan..
Sebenarnya aku ingin mengikutimu, tapi kamu kesana untuk mengikuti jejak cinta yang kamu kejar. Dan aku tak mau jadi bayanganmu saja, itu sakit asal kamu tahu.
Baiklah, semoga kita menemukan jalan buntu, llu berbalik dan saling bertemu :)
Sebenarnya aku ingin mengikutimu, tapi kamu kesana untuk mengikuti jejak cinta yang kamu kejar. Dan aku tak mau jadi bayanganmu saja, itu sakit asal kamu tahu.
Baiklah, semoga kita menemukan jalan buntu, llu berbalik dan saling bertemu :)
Kamis, 11 Agustus 2011
~Randomize me~
Aku memilih melihatmu dari sini..
Mencecap indahmu dari jarak terdekat, namun masih tak tersentuh..
Berkali mataku, hatiku, mencoba membicarakan ttg 'rasa' tapi, jarak kita memang terlampau dekat; jadi tak bisa terbaca.
Jadi aku hanya memilih untuk tidak memilih.
Mencecap indahmu dari jarak terdekat, namun masih tak tersentuh..
Berkali mataku, hatiku, mencoba membicarakan ttg 'rasa' tapi, jarak kita memang terlampau dekat; jadi tak bisa terbaca.
Jadi aku hanya memilih untuk tidak memilih.
Kamis, 04 Agustus 2011
maaf, saya khilaf..
Ajaib banget ditengah kelemesan badan, (puasa ceritanya) gw malah ujug2 ke gramed matraman jam 2 an siang. bermodal nangkring di metromini 46 gw pun nekat ke matraman.
Gramed matraman adalah one of surga gw di jakarta. kalo lagi pengen sendiri pasti gw kesana, baca buku gratisan, liat-liat komik baru, dan pada akhirnya gw ngeces sendiri liat buku2 baru.. pengen beli semuaaaa, tapi apa daya kantong tak sampai uwoooooo.
Setelah kalap muter sana-sini, nyari buku inceran di mesin pencari yg ternyata tuh buku belum ada stoknya. *gigit jari*.
Jreeeenggg tanpa angin tanpa hujan pun akhirnya gue beli tiga buah buku. Setelah berlalu dari kasir barulah rasa harubiru (red: nyesek plus nyesel) itu muncul. God, siang-siang gw beli buku banyak seharga uang saku seminggu. hikssss :(. Suddenly gw emang suka khilaf gitu. *ngeles*
Here is buku yang berhasil gw seret dari gramed matraman.
1. 33 Pesan Nabi. Komik Hadist Shahih Bukhari Muslim. hmm, ini sih sebenernya buku inceran udah lama.. hehe
2. Ayahku (bukan) Pembohong. Buku barunya Tere Liye. Entah kenapa yah, gw selalu terbuai (halah) eh tergoda sama buku-bukunya tere liye. So gw beli ajah. hwehehehe
3. KENING. Buku curhatannya Fitrop (Fitri Tropica). Anyway, ini buku gw beli dengan alasan yg sangat sepele. Gara-gara pas antri bayar buku yang pertama gw ngeliat seorang cowo megang buku itu. Walhasil gw cari tuh.. dan ternyata itu bukunya fitrop. aaaa gw seneng banget.
Well, setelah ini rencananya mau buat review buku-bukunya. Yah, biar gw ga terlalu ngerasa bersalah lah. hehe.
***
Gw masih ga berubah. Lebih milih buku atau dvd film kalo punya duit. Walau ga nolak juga kalo diajak belanja baju atau sepatu. Yah, i'm ordinary girl too. ngeces juga liat baju keren. But, i prefer buy a new book or other things. Baju cuma bisa gue pake sendiri, sedangkan buku, pengetahuan, bisa gue bagi kesiapapun.
Dear, buku-buku yang udah gw beli tp belum dibaca dengan baik. Maaf yah...
Someday, pasti gw baca dan gw cari kooo. :)
Gramed matraman adalah one of surga gw di jakarta. kalo lagi pengen sendiri pasti gw kesana, baca buku gratisan, liat-liat komik baru, dan pada akhirnya gw ngeces sendiri liat buku2 baru.. pengen beli semuaaaa, tapi apa daya kantong tak sampai uwoooooo.
Setelah kalap muter sana-sini, nyari buku inceran di mesin pencari yg ternyata tuh buku belum ada stoknya. *gigit jari*.
Jreeeenggg tanpa angin tanpa hujan pun akhirnya gue beli tiga buah buku. Setelah berlalu dari kasir barulah rasa harubiru (red: nyesek plus nyesel) itu muncul. God, siang-siang gw beli buku banyak seharga uang saku seminggu. hikssss :(. Suddenly gw emang suka khilaf gitu. *ngeles*
Here is buku yang berhasil gw seret dari gramed matraman.
1. 33 Pesan Nabi. Komik Hadist Shahih Bukhari Muslim. hmm, ini sih sebenernya buku inceran udah lama.. hehe
2. Ayahku (bukan) Pembohong. Buku barunya Tere Liye. Entah kenapa yah, gw selalu terbuai (halah) eh tergoda sama buku-bukunya tere liye. So gw beli ajah. hwehehehe
3. KENING. Buku curhatannya Fitrop (Fitri Tropica). Anyway, ini buku gw beli dengan alasan yg sangat sepele. Gara-gara pas antri bayar buku yang pertama gw ngeliat seorang cowo megang buku itu. Walhasil gw cari tuh.. dan ternyata itu bukunya fitrop. aaaa gw seneng banget.
Well, setelah ini rencananya mau buat review buku-bukunya. Yah, biar gw ga terlalu ngerasa bersalah lah. hehe.
***
Gw masih ga berubah. Lebih milih buku atau dvd film kalo punya duit. Walau ga nolak juga kalo diajak belanja baju atau sepatu. Yah, i'm ordinary girl too. ngeces juga liat baju keren. But, i prefer buy a new book or other things. Baju cuma bisa gue pake sendiri, sedangkan buku, pengetahuan, bisa gue bagi kesiapapun.
Dear, buku-buku yang udah gw beli tp belum dibaca dengan baik. Maaf yah...
Someday, pasti gw baca dan gw cari kooo. :)
Sabtu, 30 Juli 2011
Wajah Pendidikan Indonesia (created on July 2009)
WAJAH PENDIDIKAN DI INDONESIA
Bila kita mendengar kata pendidikan, maka akan identik dengan sekolah, kuliah, guru, siswa, mahasiswa dan yang lainnya, ilmu, belajar, pembangunan akhlakul kharimah dan yang lainnya. Semuanya mungkin tentang pembangunan generasi muda, calon pemimpin bangsa kelak. Walau dalam Islam hukum mencari pendidikan itu wajib bagi semuanya, tua, muda, kanak-kanak, dari lahir sampai liang lahat.
Mari kita tengok ke dalam Negeri, bagaimana wajah pendidikan kita?.
Di Indonesia sendiri setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak, sebagaimana yang telah di atur oleh Undang-undang dasar 45. Namun apakah sudah semua anak bangsa telah mendapatkan haknya?. Ternyata masih banyak dari kita yang tak bisa dengan leluasa menikmati pendidikan. Banyak diantara kita yang mengalah pada nasib, lebih memilih bekerja untuk meredakan suara perut, menyambung hidup dengan nasi. Maka alangkah naifnya kita yang telah di beri kesempatan ini menyia-nyiakannya, bermalas-malasan, setengah hati mencari ilmu. Walau kita tahu, nasib bangsa di masa depan di tentukan oleh kita. Generasi muda bangsa.
Masalah pendidikan di Indonesia pun tidak berhenti hanya kepada masalah kesempatan-masalah biaya, tapi juga masalah para pelaksana pendidikan itu sendiri. Siapa mereka itu?
Mereka adalah pemerintah, sebagai penyelenggara dan penanggungjawab pendidikan bangsa, lalu para tenaga pendidik, dan peserta didik. Ketiga komponen ini haruus saling bersinergi, mendukung satu sama lain agar tercipta pendidikan yang baik, bermutu dan dapat di nikmati oleh semua kalangan.
Pemerintah sebagai penanggung jawab dari penyelenggaraan pendidikan, motor pertama pembuat kebijakan pendidikan, sudah selayaknya melakukan terobosan baru bagi dunia pendidika. Karena pendidikan merupakan sesuatu yang dinamis, berkembang sesuai dengan zamannya. Pendidikan dan masalah birokrasi adalah bagaikan dua mata pisau yang tak bisa di satukan, seringkali pendidikan menjadi tersendat karena masalah birokrasi, terutama mengenai masalah infrastruktur pendidikan, baik itu fisik maupun non fisik. Mungkin bagi sekolah yang letaknya dekat dengan pusat pemerintahan, bukan merupakan hal yang sulit untuk meminta kelengkapan fasilitas, ataupun dana, memperbaharui isu-isu pendidikan terbaru, atau yang lainnya. Tapi bayangkan dengan sekolah yang terletak di pedalaman, di pedesaan, yang belum tersentuh peradaban baru, bagi mereka bisa mendapat pendidikan saja adalah suatu hal yang sangat istimewa. Pemerintah juga bertanggungjawab terhadap kesejahteraan para pendidik, yang seharusnya tidak berdasarkan status (baca : PNS-NON PNS). Banyak tenaga pendidik di Negara ini yang tak bergelar sarjana, tapi nmereka menagbdi dengan sepenuh hati kepada pertiwi, menjalankan tugasnya, bahkan tanpa memikirkan bayaran atas profesinya .
Tenaga pendidik juga memliki peran yang tak kalah vitalnya dalam pendidikan. Guru tak hanya berperan sebagai pentransfer segala ilmu pengetahuan kepada siswanya, tapi juga Guru sebagai role mode, teladan bagi para siswanya. Semua ini akan berjalan dengan selaras dan seimbang apabila kita memiliki para tenaga pendidik yang berkualitas, yang memberikan totalitas pengabdiannya kepada Negara. Lagi-lagi pemerintah juga ambil peranan dalam masalah ini. Untuk menciptakan SDA yang berkualitas di perlukan sokongan dana, pelatihan-pelatihan untuk menambah keprofesinalismean mereka, jaminan kesejahteraan, dan jaminan ketenangan profesi, hal ini menjadi penting, karena dalam menjalankan tugasnya seorang guru memerlukan situasi yang kondusif, bebas dari tekanan dan interensi pihak-pihak yang mempunyai tujuan lain.
Peserta didik, merupakan komponen terpenting dari pendidikan. Merekalah objek penerima ilmu pengetahuan dari para tenaga pendidik, merekalah penerima kebijakan-kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. Tapi, apa hanya sampai di situ peran seorang siswa dalam pendidikan? Diam, menyimak, mendengarkan, lalu menelan mentah-mentah apa yang mereka dapatkan dari sekolah, tanpa berfikir lagi guna dan manfaat bagi kehidupannya kelak. Banyak generasi muda kita yang pintar, yang berotak cerdas, namun banyak juga yang menjadi celaka dengan kecerdasannya. Menggunakan kepintaran yang mereaka punya untuk hal-hal yang merugikan masyarakat sekitarnya, melakukan tindakan criminal dan lain sebagainya. Hal ini laha yang akan terus terjadi apabila para peserta didik hanya berperan sebagai penerima, selayaknya mereka juga di libatkan secara aktif dalam pendidikan, sudah tak zaman lagi bila guru saja yang terus aktif bercerita, di perlukan juga partisipasi para siswa, misalkan dengan bertanya pada pelajaran yang tidak mengerti, berani menevaluasi kinerja gurunya muda sarat agar berubah menjadi lebih baik lagi.
Pada akhirnya, kita semua berharap agar tercipta pendidikan yang baik di Indonesia tercinta ini, pendidikan yang bermutu, yang akan menghasilkan generasi muda berkualitas.
PERENCANAAN HIDUP DALAM 5 TAHUN KE DEPAN
( Insya Allah jika masih di beri umur oleh Allah )
Nama saya Nurlatifah, terlahir di karawang 13 juli 1991. Akan membuat perencanaan hidup saya dalam 5 tahun ke depan (insya Allah jika saya masih di beri kesempatan hidup di dunia) semenjak saya di terima di UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA pada tahun akademik 2009/2010 fakultas Ilmu pendidikan, jurusan Bimbingan dan Konseling. Adapun perencanaan hidup saya adalah sebagai berikut :
1. Menyelesaikan masa perkulahan saya dengan tepat waktu, selambatnya dalam jangka waktu 5 tahun.
2. Mengikuti kegiatan atau organisasi kemahasiswaan untuk melatih, mengembangkan, dan mengasah kemampuan saya, dan jiwa kepemimpinan saya.
3. Mengikuti kegiatan keagamaan, kajian-kajian ilmu agar dapat menambah keimanan dan pengetahuan agama saya.
4. Bila telah menyelesaikan pendidikan di Bimbingan Konseling UNJ, kelak saya ingin menjadi guru BK yang asyik sehingga bisa dekat dengan para murid agar mereka tidak segan bercerita tentang masalahnya kepada saya.
5. Ingin mengikuti organisasi kepenulisan atau bahasa untuk menyalurkan hobi saya dalam bidang sastra, dan bahasa.
6. Jika telah menyelesaikan studi, saya ingin lanjut S2 bila ada kesempatan, dan biaya.
AKU DAN MASA DEPAN PENDIDKAN INDONESIA
Aku ingin menjadi bagian dari pendidikan Indonesia. Menjadi penyemangat bagi putra-putri bangsa, agar terus berkarya, terus bercita-cita.
Aku ingin berusaha meyakinkan mereka, agar mau terus belajar, menjadi para pejuang ilmu pengetahuan. Aku ingin selalu ada untuk mereka yang kadang merasa kalah oleh masalahnya, di pandang tak ada oleh kawannya saat melakukan hal-hal di luar norma yang ada.
Aku ingin menjadi orang pertama yang tersenyum saat anak muridku berhasil kelak. Saat mereka dapat menuntut ilmu tanpa aral derita. Walau sungguhpun, hidup itu tak pernah habis masalahnya.
Tapi setidaknya aku ingin terus memasang telingaku dengan seksama, mendengar setiap kesah mereka, dan kemudian berusaha mengajaknya bersyukur atas apa yang mereka punya.
Bersyukur bahwa mereka termasuk anak bangsa yang beruntung bisa berseragam sekolah setiap hari, masih berkesempatan mendengar, menyimak, lalu membuka cakrawala ilmuNya lewat para guru yang mulia. Karena di luar sana ada berjuta malaikat kecil seperti mereka tak pernah kenal arti sekolah, tak pernah punya setumpuk buku untuk di baca, tak pernah bisa berselancar dunia maya untuk mencari kabar berita, walau interner sudah dimana-mana.
Dan untuk mereka di luar sana, yang punya kelebihan luar biasa namun tak kuasa bercita-cita karena satu kata : BIAYA. Aku ingin berikan selaksa do’a dan pengharapan. Membantu mereka semampuku agar mereka dapat merajut mimpi baru, meski dengan jalan yang lain,, tanpa sekolah, tanpa ijazah. Aku ingin membimbing mereka agar terus bersemangat menatap masa depan.
Aku ingin meyakinkan semua, bahwa tak pernah ada anak yang terlahir dengan label NAKAL. Setiap anak terlahir polos, dan suci seperti selembar kertas putih. Tergantung bagaimana mewarnainya, menggambarinya.
Namun aku ingin berusaha menorehkan warna-warna terbaik pada mereka, warna paling ceria yang pernah ada. Agar mereka dapat bersuka cita menghadapi dunia, dengan bekal ilmu dan cita-cita.
Aku ingin jadi sahabat mereka yang setia mengiringi kesuksesan mereka. Aku ingin melihat mereka memeluk mimpi-mimpinya. Jadi dokter, ahli kimia, ahli fisika ataupun yang lainnya. Walaupun mungkin aku tak akan pernah mengajarinya matematika atau yang lainnya. Aku ingin mengajari mereka membaca!. Belajar membaca setiap kejadian yang ada dengan respon terbaik, dengan tata cara seorang pejuang ilmu yang sejati.
Mungkin terdengar begitu muluk, tapi jika kita masih boleh bermimpi maka pilihlah yang paling baik. Lalu buatlah ia menjadi nyata dengan cara terbaik pula.
NurLatifah 1715096170
MPA Jurusab BIMBINGAN DAN KONSELING 2009
Bila kita mendengar kata pendidikan, maka akan identik dengan sekolah, kuliah, guru, siswa, mahasiswa dan yang lainnya, ilmu, belajar, pembangunan akhlakul kharimah dan yang lainnya. Semuanya mungkin tentang pembangunan generasi muda, calon pemimpin bangsa kelak. Walau dalam Islam hukum mencari pendidikan itu wajib bagi semuanya, tua, muda, kanak-kanak, dari lahir sampai liang lahat.
Mari kita tengok ke dalam Negeri, bagaimana wajah pendidikan kita?.
Di Indonesia sendiri setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak, sebagaimana yang telah di atur oleh Undang-undang dasar 45. Namun apakah sudah semua anak bangsa telah mendapatkan haknya?. Ternyata masih banyak dari kita yang tak bisa dengan leluasa menikmati pendidikan. Banyak diantara kita yang mengalah pada nasib, lebih memilih bekerja untuk meredakan suara perut, menyambung hidup dengan nasi. Maka alangkah naifnya kita yang telah di beri kesempatan ini menyia-nyiakannya, bermalas-malasan, setengah hati mencari ilmu. Walau kita tahu, nasib bangsa di masa depan di tentukan oleh kita. Generasi muda bangsa.
Masalah pendidikan di Indonesia pun tidak berhenti hanya kepada masalah kesempatan-masalah biaya, tapi juga masalah para pelaksana pendidikan itu sendiri. Siapa mereka itu?
Mereka adalah pemerintah, sebagai penyelenggara dan penanggungjawab pendidikan bangsa, lalu para tenaga pendidik, dan peserta didik. Ketiga komponen ini haruus saling bersinergi, mendukung satu sama lain agar tercipta pendidikan yang baik, bermutu dan dapat di nikmati oleh semua kalangan.
Pemerintah sebagai penanggung jawab dari penyelenggaraan pendidikan, motor pertama pembuat kebijakan pendidikan, sudah selayaknya melakukan terobosan baru bagi dunia pendidika. Karena pendidikan merupakan sesuatu yang dinamis, berkembang sesuai dengan zamannya. Pendidikan dan masalah birokrasi adalah bagaikan dua mata pisau yang tak bisa di satukan, seringkali pendidikan menjadi tersendat karena masalah birokrasi, terutama mengenai masalah infrastruktur pendidikan, baik itu fisik maupun non fisik. Mungkin bagi sekolah yang letaknya dekat dengan pusat pemerintahan, bukan merupakan hal yang sulit untuk meminta kelengkapan fasilitas, ataupun dana, memperbaharui isu-isu pendidikan terbaru, atau yang lainnya. Tapi bayangkan dengan sekolah yang terletak di pedalaman, di pedesaan, yang belum tersentuh peradaban baru, bagi mereka bisa mendapat pendidikan saja adalah suatu hal yang sangat istimewa. Pemerintah juga bertanggungjawab terhadap kesejahteraan para pendidik, yang seharusnya tidak berdasarkan status (baca : PNS-NON PNS). Banyak tenaga pendidik di Negara ini yang tak bergelar sarjana, tapi nmereka menagbdi dengan sepenuh hati kepada pertiwi, menjalankan tugasnya, bahkan tanpa memikirkan bayaran atas profesinya .
Tenaga pendidik juga memliki peran yang tak kalah vitalnya dalam pendidikan. Guru tak hanya berperan sebagai pentransfer segala ilmu pengetahuan kepada siswanya, tapi juga Guru sebagai role mode, teladan bagi para siswanya. Semua ini akan berjalan dengan selaras dan seimbang apabila kita memiliki para tenaga pendidik yang berkualitas, yang memberikan totalitas pengabdiannya kepada Negara. Lagi-lagi pemerintah juga ambil peranan dalam masalah ini. Untuk menciptakan SDA yang berkualitas di perlukan sokongan dana, pelatihan-pelatihan untuk menambah keprofesinalismean mereka, jaminan kesejahteraan, dan jaminan ketenangan profesi, hal ini menjadi penting, karena dalam menjalankan tugasnya seorang guru memerlukan situasi yang kondusif, bebas dari tekanan dan interensi pihak-pihak yang mempunyai tujuan lain.
Peserta didik, merupakan komponen terpenting dari pendidikan. Merekalah objek penerima ilmu pengetahuan dari para tenaga pendidik, merekalah penerima kebijakan-kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. Tapi, apa hanya sampai di situ peran seorang siswa dalam pendidikan? Diam, menyimak, mendengarkan, lalu menelan mentah-mentah apa yang mereka dapatkan dari sekolah, tanpa berfikir lagi guna dan manfaat bagi kehidupannya kelak. Banyak generasi muda kita yang pintar, yang berotak cerdas, namun banyak juga yang menjadi celaka dengan kecerdasannya. Menggunakan kepintaran yang mereaka punya untuk hal-hal yang merugikan masyarakat sekitarnya, melakukan tindakan criminal dan lain sebagainya. Hal ini laha yang akan terus terjadi apabila para peserta didik hanya berperan sebagai penerima, selayaknya mereka juga di libatkan secara aktif dalam pendidikan, sudah tak zaman lagi bila guru saja yang terus aktif bercerita, di perlukan juga partisipasi para siswa, misalkan dengan bertanya pada pelajaran yang tidak mengerti, berani menevaluasi kinerja gurunya muda sarat agar berubah menjadi lebih baik lagi.
Pada akhirnya, kita semua berharap agar tercipta pendidikan yang baik di Indonesia tercinta ini, pendidikan yang bermutu, yang akan menghasilkan generasi muda berkualitas.
PERENCANAAN HIDUP DALAM 5 TAHUN KE DEPAN
( Insya Allah jika masih di beri umur oleh Allah )
Nama saya Nurlatifah, terlahir di karawang 13 juli 1991. Akan membuat perencanaan hidup saya dalam 5 tahun ke depan (insya Allah jika saya masih di beri kesempatan hidup di dunia) semenjak saya di terima di UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA pada tahun akademik 2009/2010 fakultas Ilmu pendidikan, jurusan Bimbingan dan Konseling. Adapun perencanaan hidup saya adalah sebagai berikut :
1. Menyelesaikan masa perkulahan saya dengan tepat waktu, selambatnya dalam jangka waktu 5 tahun.
2. Mengikuti kegiatan atau organisasi kemahasiswaan untuk melatih, mengembangkan, dan mengasah kemampuan saya, dan jiwa kepemimpinan saya.
3. Mengikuti kegiatan keagamaan, kajian-kajian ilmu agar dapat menambah keimanan dan pengetahuan agama saya.
4. Bila telah menyelesaikan pendidikan di Bimbingan Konseling UNJ, kelak saya ingin menjadi guru BK yang asyik sehingga bisa dekat dengan para murid agar mereka tidak segan bercerita tentang masalahnya kepada saya.
5. Ingin mengikuti organisasi kepenulisan atau bahasa untuk menyalurkan hobi saya dalam bidang sastra, dan bahasa.
6. Jika telah menyelesaikan studi, saya ingin lanjut S2 bila ada kesempatan, dan biaya.
AKU DAN MASA DEPAN PENDIDKAN INDONESIA
Aku ingin menjadi bagian dari pendidikan Indonesia. Menjadi penyemangat bagi putra-putri bangsa, agar terus berkarya, terus bercita-cita.
Aku ingin berusaha meyakinkan mereka, agar mau terus belajar, menjadi para pejuang ilmu pengetahuan. Aku ingin selalu ada untuk mereka yang kadang merasa kalah oleh masalahnya, di pandang tak ada oleh kawannya saat melakukan hal-hal di luar norma yang ada.
Aku ingin menjadi orang pertama yang tersenyum saat anak muridku berhasil kelak. Saat mereka dapat menuntut ilmu tanpa aral derita. Walau sungguhpun, hidup itu tak pernah habis masalahnya.
Tapi setidaknya aku ingin terus memasang telingaku dengan seksama, mendengar setiap kesah mereka, dan kemudian berusaha mengajaknya bersyukur atas apa yang mereka punya.
Bersyukur bahwa mereka termasuk anak bangsa yang beruntung bisa berseragam sekolah setiap hari, masih berkesempatan mendengar, menyimak, lalu membuka cakrawala ilmuNya lewat para guru yang mulia. Karena di luar sana ada berjuta malaikat kecil seperti mereka tak pernah kenal arti sekolah, tak pernah punya setumpuk buku untuk di baca, tak pernah bisa berselancar dunia maya untuk mencari kabar berita, walau interner sudah dimana-mana.
Dan untuk mereka di luar sana, yang punya kelebihan luar biasa namun tak kuasa bercita-cita karena satu kata : BIAYA. Aku ingin berikan selaksa do’a dan pengharapan. Membantu mereka semampuku agar mereka dapat merajut mimpi baru, meski dengan jalan yang lain,, tanpa sekolah, tanpa ijazah. Aku ingin membimbing mereka agar terus bersemangat menatap masa depan.
Aku ingin meyakinkan semua, bahwa tak pernah ada anak yang terlahir dengan label NAKAL. Setiap anak terlahir polos, dan suci seperti selembar kertas putih. Tergantung bagaimana mewarnainya, menggambarinya.
Namun aku ingin berusaha menorehkan warna-warna terbaik pada mereka, warna paling ceria yang pernah ada. Agar mereka dapat bersuka cita menghadapi dunia, dengan bekal ilmu dan cita-cita.
Aku ingin jadi sahabat mereka yang setia mengiringi kesuksesan mereka. Aku ingin melihat mereka memeluk mimpi-mimpinya. Jadi dokter, ahli kimia, ahli fisika ataupun yang lainnya. Walaupun mungkin aku tak akan pernah mengajarinya matematika atau yang lainnya. Aku ingin mengajari mereka membaca!. Belajar membaca setiap kejadian yang ada dengan respon terbaik, dengan tata cara seorang pejuang ilmu yang sejati.
Mungkin terdengar begitu muluk, tapi jika kita masih boleh bermimpi maka pilihlah yang paling baik. Lalu buatlah ia menjadi nyata dengan cara terbaik pula.
NurLatifah 1715096170
MPA Jurusab BIMBINGAN DAN KONSELING 2009
Remember this? Penugasan MPA tahun 2009. Sekarang, gw udah semester 5. Udah tua !
PERAN GURU PEMBIMBING BAGI SISWA
Peran adalah tingkah laku yang dipentaskan individu berkenaan dengan kedudukan atau statusnya. Peranan merupakan aspek dinamis dari status. Jika seseorang melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan status yang dimilikinya, maka ia telah menjalankan peranannya.
Pengertian keberhasilan pada konteks tulisan ini diukur dengan angka yang diperoleh siswa pada setiap mata pelajaran yang tercantum di raport siswa, atau sekurang-kurangnya angka yang diperoleh siswa dari evaluasi/ulangan dan ujian. Kurang dari angka 6 (enam) tidak berhasil, antara 6 – 7,9 mendapat predikat penilaian cukup, dan 8 (delapan) ke atas baik atau berhasil. Angka 6 (enam) pada umumnya diletakkan sebagai ”batas” atau ukuran berhasil dan tidak berhasil.
Gagal dipahami sebagai tidak berhasilnya siswa mencapai angka/nilai minimal yang menggambarkan pencapaian kompetensi tertentu sebagai standar untuk naik kelas atau lulus. (polldaddy poll=1743372)
Siswa adalah peserta didik/subyek didik pada sekolah formal pada jenjang tertentu, misalnya SD, SMP, SMU dll.
Secara gampangnya tulisan ini hendak mendeskripsikan seberapa besar peran seorang guru dalam ikut andil mempengaruhi siswa mencapai keberhasilannya. Berhasil dan gagal (terbatas) diukur dari nilai angka siswa pada rapor, yang menentukan naik/lulus tidaknya siswa itu. Besaran peran guru dimaksud dicoba untuk dikwantifikasi (diangkakan secara numerik statistik) meski sangat sulit mencapai tingkat generalisasi konklusi yang presisi bulat utuh dan dapat dianggap mewakili peran guru.
Dalam peng-angkaan untuk mencapai besaran prosentase peran guru, diandaikan bahwa setiap guru telah menjalankan semua peranannya. Semua komponen yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam keberhasilan siswa, seperti orangtua siswa/rumah tangga, mastarakat lingkungan, juga menjalankan perannya dengan baik. Alokasi waktu yang menjadi domain masing-masing dikwantifikasi.
PERANAN GURU
Dalam bukunya BURUNG BERKICAU Anthony de Mello menulis pengandaian sebagai berikut:
Seorang murid mengeluh kepada Gurunya
’Bapak menuturkan banyak cerita, Tetapi tidak pernah
Menerangkan maknanya kepada kami’
Jawab sang Guru:
’Bagaimana pendapatmu, Nak,
Andaikan seorang menawarkan
Buah kepadamu, namun
Mengunyahkannya dahulu
Bagimu?’
Dari perumpamaan de Mello dipahami bahwa peran seorang guru bukanlah penentu dan ada batas-batasnya. Batas itu dibahasakan sebagai peran menawarkan buah (baca=menyampaikan, menerangkan/menjelaskan materi ajar yang tentunya dengan berbagai methode dan media), namun tetaplah murid yang ”mengunyahnya” (subyek belajar). Pada teori belajar modern yang memberikan banyak peran pada siswa sebagai subyek belajar secara lebih luas, maka guru memposisikan dirinya sebagai fasilitator. Guru memfasilitasi kebutuhan belajar muridnya.
Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggungjawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan.untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak.
Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkah laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.
Peran guru sebagai model atau menjadi contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila.
Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial tingkah laku sosial anak. Kurikulum harus berisi hal-hal tersebut di atas sehingga anak memiliki pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dianut oleh bangsa dan negaranya, mempunyai pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat dan pengetahuan untuk mengembangkan kemampuannya lebih lanjut.
Peran guru sebagai pelajar (learner). Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan yang baru yang dikuasai tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan maupun tugas kemanusiaan.
Peran guru sebagai setiawan dalam lembaga pendidikan. Seorang guru diharapkan dapat membantu kawannya yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan kemampuannya. Bantuan dapat secara langsung melalui pertemuan-pertemuan resmi maupun pertemuan insidental.
Komentar dari artikel ini :
Menurut saya artikel ini sangat jelas sekali menjelaskan tentang peran guru pembimbing siswa. Menjadi seorang guru bukan hanya sebatas profesi yang di jalankan begitu saja, lalu menerima bayaran dari Negara. Tugas seorang guru lebih dari itu, yaitu sebagai seorang pendidik pastinya, seorang guru bukan hanya berperan sebagai sosok pentransfer ilmu pengetahuan, bukan hanya mengajar dan membuka cakrawala siswa tentang semesta ilmu. Namun juga bagaimana mengarahkan siswa untuk menjadi sosok yang berkepribadian yang baik, mampu mempertanggungjawabkan ilmu-ilmu yang dia dapatkan untuk kebaikan. Dan hal itu bisa tercipta bila ia memiliki seorang guru yang mau mendidiknya, mengarahkannya, layaknya seorang Ayah kepada anaknya, layaknya seorang Ibu kepada putrinya. Kemudian, guru juga berperan sebagai role mode dari murid-mridnya. Segala tingkah laku guru akan di tiru oleh muridnya, maka sudah selayaknya bila kita mencontohkan hal-hal menerapkan nilai-nilai tersebut di kehidupan kita pula. Peran guru sebagai pembimbing, jelas sekali bahwa seorang guru bertanggungjawab atas akhlak dan perilaku muridnya, khususnya ketika di lingkungan sekolah, bahkan di rumah. Namun tak jarang kita dapati, adakalanya guru pembimbing di sekolah justru berubah menjadi seorang guru penghukum. Setiap ada masalah penyimpangan perilaku pada murid, maka di langsung saja melimpahkan kesalahan pada muridnya, dan mengabaikan aspek-aspek penting lainnya, seperti :
• Sisi psikologis siswa yang terkena masalah.
• Kelanjutan masalah yang ada, karena suatu masalah tak akan selesai dengan kemarahan, apalagi kekerasan.
• Nilai moral seorang guru, jika seorang guru pembimbing melakukan hal ini berulang-ulang maka jangan di salahkan jika para siswa memberikan pelabelan yang negative terhadap guru pembimbing, misalnya : guru penghukum, guru killer atau lain sebagainya.
Terakhir mengenai peran guru sebagai komunikator, seorang guru apalagi guru pembimbing
harus bisa berkomunikasi dengan baik pada para murid, orangtua ataupun sesama guru yang lainnya, harus belajar mengatasi masalah dengan melakukan berbagai pendekatan persuasive terlebih terhadap siswa yang sedang bermasalah Sekian pendapat dari saya
Peran adalah tingkah laku yang dipentaskan individu berkenaan dengan kedudukan atau statusnya. Peranan merupakan aspek dinamis dari status. Jika seseorang melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan status yang dimilikinya, maka ia telah menjalankan peranannya.
Pengertian keberhasilan pada konteks tulisan ini diukur dengan angka yang diperoleh siswa pada setiap mata pelajaran yang tercantum di raport siswa, atau sekurang-kurangnya angka yang diperoleh siswa dari evaluasi/ulangan dan ujian. Kurang dari angka 6 (enam) tidak berhasil, antara 6 – 7,9 mendapat predikat penilaian cukup, dan 8 (delapan) ke atas baik atau berhasil. Angka 6 (enam) pada umumnya diletakkan sebagai ”batas” atau ukuran berhasil dan tidak berhasil.
Gagal dipahami sebagai tidak berhasilnya siswa mencapai angka/nilai minimal yang menggambarkan pencapaian kompetensi tertentu sebagai standar untuk naik kelas atau lulus. (polldaddy poll=1743372)
Siswa adalah peserta didik/subyek didik pada sekolah formal pada jenjang tertentu, misalnya SD, SMP, SMU dll.
Secara gampangnya tulisan ini hendak mendeskripsikan seberapa besar peran seorang guru dalam ikut andil mempengaruhi siswa mencapai keberhasilannya. Berhasil dan gagal (terbatas) diukur dari nilai angka siswa pada rapor, yang menentukan naik/lulus tidaknya siswa itu. Besaran peran guru dimaksud dicoba untuk dikwantifikasi (diangkakan secara numerik statistik) meski sangat sulit mencapai tingkat generalisasi konklusi yang presisi bulat utuh dan dapat dianggap mewakili peran guru.
Dalam peng-angkaan untuk mencapai besaran prosentase peran guru, diandaikan bahwa setiap guru telah menjalankan semua peranannya. Semua komponen yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam keberhasilan siswa, seperti orangtua siswa/rumah tangga, mastarakat lingkungan, juga menjalankan perannya dengan baik. Alokasi waktu yang menjadi domain masing-masing dikwantifikasi.
PERANAN GURU
Dalam bukunya BURUNG BERKICAU Anthony de Mello menulis pengandaian sebagai berikut:
Seorang murid mengeluh kepada Gurunya
’Bapak menuturkan banyak cerita, Tetapi tidak pernah
Menerangkan maknanya kepada kami’
Jawab sang Guru:
’Bagaimana pendapatmu, Nak,
Andaikan seorang menawarkan
Buah kepadamu, namun
Mengunyahkannya dahulu
Bagimu?’
Dari perumpamaan de Mello dipahami bahwa peran seorang guru bukanlah penentu dan ada batas-batasnya. Batas itu dibahasakan sebagai peran menawarkan buah (baca=menyampaikan, menerangkan/menjelaskan materi ajar yang tentunya dengan berbagai methode dan media), namun tetaplah murid yang ”mengunyahnya” (subyek belajar). Pada teori belajar modern yang memberikan banyak peran pada siswa sebagai subyek belajar secara lebih luas, maka guru memposisikan dirinya sebagai fasilitator. Guru memfasilitasi kebutuhan belajar muridnya.
Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggungjawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan.untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak.
Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkah laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.
Peran guru sebagai model atau menjadi contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila.
Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial tingkah laku sosial anak. Kurikulum harus berisi hal-hal tersebut di atas sehingga anak memiliki pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dianut oleh bangsa dan negaranya, mempunyai pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat dan pengetahuan untuk mengembangkan kemampuannya lebih lanjut.
Peran guru sebagai pelajar (learner). Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan yang baru yang dikuasai tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan maupun tugas kemanusiaan.
Peran guru sebagai setiawan dalam lembaga pendidikan. Seorang guru diharapkan dapat membantu kawannya yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan kemampuannya. Bantuan dapat secara langsung melalui pertemuan-pertemuan resmi maupun pertemuan insidental.
Komentar dari artikel ini :
Menurut saya artikel ini sangat jelas sekali menjelaskan tentang peran guru pembimbing siswa. Menjadi seorang guru bukan hanya sebatas profesi yang di jalankan begitu saja, lalu menerima bayaran dari Negara. Tugas seorang guru lebih dari itu, yaitu sebagai seorang pendidik pastinya, seorang guru bukan hanya berperan sebagai sosok pentransfer ilmu pengetahuan, bukan hanya mengajar dan membuka cakrawala siswa tentang semesta ilmu. Namun juga bagaimana mengarahkan siswa untuk menjadi sosok yang berkepribadian yang baik, mampu mempertanggungjawabkan ilmu-ilmu yang dia dapatkan untuk kebaikan. Dan hal itu bisa tercipta bila ia memiliki seorang guru yang mau mendidiknya, mengarahkannya, layaknya seorang Ayah kepada anaknya, layaknya seorang Ibu kepada putrinya. Kemudian, guru juga berperan sebagai role mode dari murid-mridnya. Segala tingkah laku guru akan di tiru oleh muridnya, maka sudah selayaknya bila kita mencontohkan hal-hal menerapkan nilai-nilai tersebut di kehidupan kita pula. Peran guru sebagai pembimbing, jelas sekali bahwa seorang guru bertanggungjawab atas akhlak dan perilaku muridnya, khususnya ketika di lingkungan sekolah, bahkan di rumah. Namun tak jarang kita dapati, adakalanya guru pembimbing di sekolah justru berubah menjadi seorang guru penghukum. Setiap ada masalah penyimpangan perilaku pada murid, maka di langsung saja melimpahkan kesalahan pada muridnya, dan mengabaikan aspek-aspek penting lainnya, seperti :
• Sisi psikologis siswa yang terkena masalah.
• Kelanjutan masalah yang ada, karena suatu masalah tak akan selesai dengan kemarahan, apalagi kekerasan.
• Nilai moral seorang guru, jika seorang guru pembimbing melakukan hal ini berulang-ulang maka jangan di salahkan jika para siswa memberikan pelabelan yang negative terhadap guru pembimbing, misalnya : guru penghukum, guru killer atau lain sebagainya.
Terakhir mengenai peran guru sebagai komunikator, seorang guru apalagi guru pembimbing
harus bisa berkomunikasi dengan baik pada para murid, orangtua ataupun sesama guru yang lainnya, harus belajar mengatasi masalah dengan melakukan berbagai pendekatan persuasive terlebih terhadap siswa yang sedang bermasalah Sekian pendapat dari saya
Bersukur (cerita anak)
Di ceritakan di sebuah hutan yang lebat hiduplah seekor burung gagak yang kulitnya hitam pekat bernama Gagas. Di hutan itu gagas tinggal bersama kelompok gagak hitam lainnya, namun ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk bermain bersama para merpati putih yang indah dan cantik bulunya serta merdu suaranya. Suatu hari saat gagas tengah asik bermain bersama para merpati, ia merenungi keadaan dirinya yang berbeda dengan para merpati tersebut. Ia bergumam dalam hatinya mengapa ia tak secantik para merpati, mengapa bulu di sekujur tubuhnya berwarna hitam pekat, ia merasa sebagai hewan paling buruk rupa di hutan itu.
Beberapa hari kemudian Gagas masih terlihat murung, ia malas keluar sarang dan tak mau lagi bermain bersama para merpati, ia malu mempunyai bulu yang tak secantik merpati, ia sedih karena para hewan jantan tak pernah ada yang memperhatikannya. Gagas terpuruk dalam kesedihannya sendiri, banyak waktu yang ia habiskan untuk menyendiri sampai para keluarga gagak mulai mengkhawatirkan keadaannya. Gagas merasa bahwa ia tak punya guna sama sekali, sudah hitam, suaraku jelek lagi, ah, apa gunanya aku hidup. Tuhan, kenapa aku diciptakan menjadi seekor gagak? Mengapa tak Kau jadikan aku seperti merpati yang cantik?.
Gagas terus saja menyalahkan dirinya sendiri dan mulai menggugat takdir Tuhan atasnya, astagfirulloh gagas.
Suatu malam, Pak Gekgek, ayah Gagas mengajaknya mencari makanan kesekitar hutan. Mereka hendak mengumpulkan makanan untuk musim dingin yang sebentar lagi akan tiba. Setelah tiba didalam hutan maka Gagas dan Ayah Gekgek pun bergegas mengumpulkan berbagai makanan yang mereka temui disana. Ada buah-buahan, kacang kenari, dan banyak lagi yang lain. Dalam perjalanan pulang menuju sarang, tiba-tiba mereka di kejutkan oleh teriakan keluarga merpati yang ternyata sarang mereka di ranting bawah pohon ceri tengah diobrak-abrik oleh rombongan Tupai pencuri. Sontak Gagas dan Ayah Gekgek yang tengah terbang menembus kegelapan malam menjadi terkejut melihat kejadian tersebut, sejenak mereka berdua terdian ketakutan dan mulai beringsut ke semak perdu untuk bersembunyi. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala gagas untuk dapat mengusir para Tupai pencuri tersebut, Gagas berteriak sangat kencang sampai mengagetkan kawanan Tupai pencuri yang kemudian lari terbirit-birit kesarangnya.
Para Tupai pun ketakutan mendengar teriakan Gagas, namun mereka tidak dapat mengetahi darimana sumber teriakan barusan. Mereka menyangka bahwa yang berteriak tadi adalah setan.
Lalu kemanakah Gagas? Ternyata gelap malam mampu menyamarkan keberadaannya yang berbulu hitam pekat, sehingga ia mampu berteriak kencang dan mengagetkan pencuri tanpa diketahui oleh mereka.
Pada akhirnya keluarga merpati pun selamat dari gangguan kawanan Tupai pencuri. Keluarga merpati sangat berterimakasih kepada Gagas dan Ayah Gekgek yang telah membantu mengusir Tupai pencuri dari sarang mereka. Sejak saat itulah Gagas jadi tahu alasan mengapa Tuhan memberikannya bulu yang hitam pekat, mengapa Tuhan membuat suaranya parau dan tak semerdu merpati...
***
Seringkali kita merasa iri dengan apa yang dimiliki oleh orang lain dan lupa bahwa kita sendiri memiliki kelebihan yang luar biasa. Kita kadang.menjadi terlalu fokus untuk membanding-bandingkan kekurangan yang kta miliki dengan kelebihan yang dimiliki orang lain. Pernah kita merenungi bahwa setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, yang pada intinya adalah bagaiman cara merubah suatu kekurangan menjadi suatu kelebihan. Bagaimana caranya agar kita bisa lebih mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan.
Beberapa hari kemudian Gagas masih terlihat murung, ia malas keluar sarang dan tak mau lagi bermain bersama para merpati, ia malu mempunyai bulu yang tak secantik merpati, ia sedih karena para hewan jantan tak pernah ada yang memperhatikannya. Gagas terpuruk dalam kesedihannya sendiri, banyak waktu yang ia habiskan untuk menyendiri sampai para keluarga gagak mulai mengkhawatirkan keadaannya. Gagas merasa bahwa ia tak punya guna sama sekali, sudah hitam, suaraku jelek lagi, ah, apa gunanya aku hidup. Tuhan, kenapa aku diciptakan menjadi seekor gagak? Mengapa tak Kau jadikan aku seperti merpati yang cantik?.
Gagas terus saja menyalahkan dirinya sendiri dan mulai menggugat takdir Tuhan atasnya, astagfirulloh gagas.
Suatu malam, Pak Gekgek, ayah Gagas mengajaknya mencari makanan kesekitar hutan. Mereka hendak mengumpulkan makanan untuk musim dingin yang sebentar lagi akan tiba. Setelah tiba didalam hutan maka Gagas dan Ayah Gekgek pun bergegas mengumpulkan berbagai makanan yang mereka temui disana. Ada buah-buahan, kacang kenari, dan banyak lagi yang lain. Dalam perjalanan pulang menuju sarang, tiba-tiba mereka di kejutkan oleh teriakan keluarga merpati yang ternyata sarang mereka di ranting bawah pohon ceri tengah diobrak-abrik oleh rombongan Tupai pencuri. Sontak Gagas dan Ayah Gekgek yang tengah terbang menembus kegelapan malam menjadi terkejut melihat kejadian tersebut, sejenak mereka berdua terdian ketakutan dan mulai beringsut ke semak perdu untuk bersembunyi. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala gagas untuk dapat mengusir para Tupai pencuri tersebut, Gagas berteriak sangat kencang sampai mengagetkan kawanan Tupai pencuri yang kemudian lari terbirit-birit kesarangnya.
Para Tupai pun ketakutan mendengar teriakan Gagas, namun mereka tidak dapat mengetahi darimana sumber teriakan barusan. Mereka menyangka bahwa yang berteriak tadi adalah setan.
Lalu kemanakah Gagas? Ternyata gelap malam mampu menyamarkan keberadaannya yang berbulu hitam pekat, sehingga ia mampu berteriak kencang dan mengagetkan pencuri tanpa diketahui oleh mereka.
Pada akhirnya keluarga merpati pun selamat dari gangguan kawanan Tupai pencuri. Keluarga merpati sangat berterimakasih kepada Gagas dan Ayah Gekgek yang telah membantu mengusir Tupai pencuri dari sarang mereka. Sejak saat itulah Gagas jadi tahu alasan mengapa Tuhan memberikannya bulu yang hitam pekat, mengapa Tuhan membuat suaranya parau dan tak semerdu merpati...
***
Seringkali kita merasa iri dengan apa yang dimiliki oleh orang lain dan lupa bahwa kita sendiri memiliki kelebihan yang luar biasa. Kita kadang.menjadi terlalu fokus untuk membanding-bandingkan kekurangan yang kta miliki dengan kelebihan yang dimiliki orang lain. Pernah kita merenungi bahwa setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, yang pada intinya adalah bagaiman cara merubah suatu kekurangan menjadi suatu kelebihan. Bagaimana caranya agar kita bisa lebih mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan.
Langganan:
Postingan (Atom)