Pages

Ads 468x60px

Labels

Sabtu, 23 Juli 2011

STOP GALAU

Lalu semuanya menjadi GALAU.

peh, gue Galau.. tolooong.

Tau neh, lagi galau gue.

Sumpah galau gila gue.

***

Tiba-tiba semuanya menjadi begitu mudah menjadi galau. Bangga dengan kegalauannya, dan senang memamerkan kegalauannya. Entah siapa yang memulainya, tapi Galau kini menjadi begitu fenomenal. Pacar ga bales sms galau, ga punya uang galau, lagi kuliah galau, baca fb orang galau, dicuekin temen galau. Semuanya serba galau. Oalaah, ono opo dengan galau?. Kok kayaknya semua orang senang menjadi galau. Apakah ini menjadi tren tersendiri, sampe ada akun twitter @radiogalaufm dg profil: Ga galau, ga gaul.
Gue sendiri sampe ngetweet sebenernya galau itu apah????. Sejak kapan galau menjadi kosakata yang ngehits banget disuarakan sama para remaja saat ini. Yang gue tau sih galau nasyidnya suara persaudaraan yang sering diputer tante gue dulu.. hehe
Kayaknya galau menjadi tren yang menyimpang saat ini, yaiyalah menyimpang. Moso diasosiakan dengan kegaulan. Aneh banget khan!.

Actually yaa, galau itu kan salah satu nama perasaan yang kurang menyenangkan. Saat dimana kita sedang berada dikeadaan bingung memutuskan sesuatu yang penting. Berada di suatu kondisi yang kurang nyaman kok yah malah dinikmati. Malah sampe ada abege yang bilang: " Lagi galau? yaudah nikmati saja kegalauannya, asik juga kan galau!".

Kalu kita semua dikit-dikit galau, apa iya kita mau jadi generasi galauers. Mau makan galau milih lauk apa (cape deh!). Mau spend time buat apa galau. Makkkjaaaang.

Yah, bukannya tak pernah lah diriku galau. Tapi yah ga harus selalu diumbar lah. Baiknya jadikan kegalauan yang menimpa kita sebagai sarana untuk melatih kecepatan dan ketepatan kita dalam memutuskan sesuatu. Jangan malah seneng lama-lama galau. Just MOVE ON and TAKE Action. Kalau galau selese terus move on tapi ga ngelangkah ke next step mah,, atuh apa bedanya??.

Ini beberapa tips penghalau galau ala chef ipehqueen (halaaah):

1. Cari tahu buru-buru sumber kegalauanmu, lalu selesaikan. Misal nih, galau karena laper yaudah buru-buru makan.

2. jangan mau berlarut-larut. Cari suasana lain jangan terus terpaku sama sumber kegalauan lo. Misal, lo galau kalo ngeliat mantan cengengesan di sekitar lo. Ya udah, beranjaklah maaan!.

3. Sibukan diri. Jadilah orang yang produktif dan terencana sehingga ga banyak waktu tersisa untuk ngegalau

4. bergaul. Orang ga punya banyak temen biasanya cepet galau. Mari curhaaat cyyn, jangan pendem sendiri terus setiap masalah. Karena salah-salah malah akan bikin lo galau tingkat dewa!

5. Positif thinking. Jangan gampang netting sama orang, biar saat kondisi ga nyaman, kita ga cepet galau.

6. Putuskan segera. Saat galau mendera, yang kamu butuhkan hanya segera mengambil keputusan. Apakah bakal nerusin ngegalau atau move on.



Nah, itu beberapa tips dari ipeh.
Semoga bermanfaat, atau malah bikin ngegalau? hehe

Semoga ga sering-sering galau :)

Resume Buku Paulo Freire

BAB 4 Pendidikan untuk kaum tertindas Paulo Freire

SEBUAH RESUME

Bab ini membahas mengenai pentingnya keberadaan dialog antara pemimpin dengan kaum tertindas dalam berbagai bidang terutama pendidikan. Dialog penting dilakukan agar rakyat tidak hanya menjadi objek pemimpin tapi juga menjadi pelaku dalam pelaksanaan sendi-sendi kehidupan. Hal ini penting untuk ditekankan karena ada suatu penegasan jika manusia adalah makhluk praksis berbeda dengan binatang yang hanya makhluk berbuat, karena binatang tidak berkarya dan hidup dalam keadaan yang tidak bisa mereka lampaui selain yang biasa mereka lampaui. Manusia melakukan tindakan dan refleksi; inilah yang disebut dengan makhluk praksis.
Para pemimpin bertanggung jawab untuk tidak menghalangi kepraksisan rakyatnya, karena pemimpin yang berusaha menghalangi sama juga dengan mengikis kepraksisan dalam dirinya sendiri. Salah satu cara pemimpin untuk bisa mengakomodasi kepraksisan rakyatnya adalah dengan cara melakukan dialog. Jika pemimpin benar-benar bertujuan untuk mengabdi kepada rakyatnya maka mereka tidak akan memaksakan kehendak, ataupun tidak mendominasi. Sebaliknya para pemimpin yang tidak bertindak dialogis kepada rakyatnya sama saja dengan meniru watak dominator dan bukan revolusioner sejati. Karena sejatinya keikutsertaan kaum tertindas adalah sesuatu yang esensial dalam sebuah proses perubahan.
Hal-hal di atas juga berlaku dalam dunia pendidikan, bahwa dialog sangat penting dilakukan dalam hubungan guru dan siswa. Jika guru hanya bertindak memaksakan apa yang ingin ia berikan kepada siswa tanpa melakukan dialog terlebih dahulu dengan siswa mengenai apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka inginkan maka pendidikan yang terjadi tidak lebih dari pengulangan cara kerja yang diajarkan oleh guru kepada siswa. Siswa hanya akan jadi objek peniru bukan subjek yang mempunyai hak untuk ikut melaksanakan proses pendidikan.
Perlu diketahui jika ketidakmanusiawan kaum penindas dan kaum revolusioner juga sama-sama menggunakan ilmu pengetahuan. Tetapi ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan oleh kaum penindas bertujuan untuk menjadikan kaum tertindas sebagai “ benda” untuk kepentingan ilmiah belaka. Oleh karena itu kaum tertindas harus ikut terlibat dalam proses revolusi agar mereka tidak dijadikan objek kepentingan ilmiah saja.
Tidak dibenarkan melakukan revolusi humanisme ilmiah yang mengatasnamakan revolusi, sehingga kemudian memperlakukan kaum tertindas sebagai objek untuk dianalisi dan atas dasar analisis itu kemudian mereka memberikan cara-cara untuk melakukan sesuatu kepada kaum tertindas tersebut. Karena dengan melakukan hal tersebut sama saja dengan menjatuhkan diri kita kepada salah satu ideologis kaum penindas yaitu pemutlakan kebodohan.
Kaum penindas menganggap bahwa kaum tertindas itu selamanya bodoh dan menggolongkan kaum penindas ke dalam kelas dimana mereka merasa lebih pintar, serba mengetahui dan terlahir untuk mengetahui sesuatu. Dengan demikian mereka menganggap orang lain berbeda. Para pemimpin revolusi yang ilmiah dan humanis tidak akan percaya dengan ideologi tersebut. Mereka tidak dapat mempercayai jika hanya mereka saja yang mengetahui sesuatu dan rakyat tidak. Karena jika hal itu terjadi berarti pemimpin meragukan rakyatnya.
Sebagian meragukan jika dialog dapat dilakukan sebelum merebut kekuasaan terlebih dahulu. Mereka menolak tata cara pendidikan kritis yang pada akhirnya menjadi menolak kualitas pendidikan sebagai suatu hasil dari revolusi dan aksi kebudayaan. Karena dipihak lain mereka berusaha mengacaukan aksi kebudayaan yang ada dengan pendidikan baru yang akan disahkan segera saat kekuasaan tengah mereka pegang. Oleh karena itu akan menjadi naif jika kita mengaharapkan kaum penindas untuk bisa memberikan atau minimal mengakui pendidikan yang membebaskan. Hal itu pulalah yang akhirnya melatarbelakangi mengapa harus terjadi sebuah revolusi, yaitu agar tercapai suatu kebebasan.
Revolusi muncul dari keadaan subyektif, dimana kaum revolusioner berusaha untuk menggeser situasi penindasan dengan membangun suatu masyarakat manusia dalam proses pembebasan yang terus menerus. Sifat mendidik dan dialogis dari revolusi juga menjadikannya sebagai “revolusi kebudayaan”. Sifat mendidik inilah sebagai alat yang penting untuk mencegah penyalahgunaan revolusi, menghindarkan revolusi dari bahaya-bahaya birokrasi. Maka proses revolusi sendiri bersifat pendidikan.
Ciri- ciri kebudayaan antidialogis
Penaklukan
Salah satu sifat utama dari ciri budaya antidialogis adalah penaklukan. Manusia yang memiliki paham antidialogis akan berusaha mencari cara untuk selalu menaklukan orang lain untuk kemudian bisa memenuhi dan mengikuti pemikiran dan keinginannya. Penakluk akan memaksakan kehendaknya kepada orang yang berhasil ia taklukan dan akan menganggap mereka sebagai miliknya.
Keinginan untuk menaklukan senantiasa terdapat dalam tindakan antidialogis. Untuk bisa menjalankan penaklukan maka kaum penindas akan berusaha untuk melenyapkan kualitas manusia sebagai “alat pertimbangan dunia”. Namun karena kaum penindas tidak mampu untuk melenyapkan semuanya maka mereka berusaha untuk menciptakan dunia palsu bagi pikiran-pikiran mereka (kaum tertindas) agar keterasingan dan kepasifan mereka bertambah. Kaum penindas mengembangkan suatu metode yang menghindarkan penampakan dunia sebagai suatu masalah yang harus dihadapi namun dunia ditampilkan sebagai sesuatu yang sudah jadi dan begitu adanya sehingga manusia hanya diharuskan untuk menyesuaikan diri sebagai penonton.
Merupakan keharusan bagi kaum penindas untuk mendekati kaum tertindas agar dapat membuat mereka tetap pasif melalui penaklukan. Namun penaklukan ini tentu saja bukan melalui cara melibatkan rakyat, tapi melalui komunikasi sejati. Kaum penindas akan berusaha menyebarkan mitos-mitos seperti kebebasan, pendidikan universal, usaha dan pekerjaan. Yang kesemuanya itu tak lebih dari iming-iming penguasa yang tak pernah dijalankan dalam keadaan yang sebenarnya.

Pecah dan kuasai
Setelah minoritas penguasa bisa menaklukan kaum mayoritas maka mereka akan berusaha memecah belah rakyat agar mereka bisa mempertahankan kekuasaannya. Untuk melemahkan kaum tertindas adalah dengan cara mengucilkan mereka, dan semakin memperlebar jurang pemisah antar mereka.
Cara lain untuk melakukan penindasan adalah dengan cara “pelatihan-pelatihan kepemimpinan”. Kaum penindas melatih beberapa pemimpin dalam rakyat dan memberikan pikiran-pikiran yang harus dikembangkan lagi ke masyarakat yang dimana isi pikiran itu tidak lain adalah cara untuk mengekang dan menindas mereka. Karena perlu diketahui jika kaum penindas tidak akan memajukan rakyatnya secara keseluruhan namun hanya para pimimpin atau pemuka yang dipilih. Hal ini dilakukan untuk tetap memelihara keterasingan dalam masyarakat serta menghambat munculnya kesadaran serta keterlibatan kritis rakyat dalam realitas total.
Manipulasi
Dengan cara memanipulasi elit penguasa akan berusaha membuat rakyat menyesuaikan diri dengan keinginan-keinginan dan tujuan mereka. Semakin rendah eksadaran politik rakyat maka akan semakin mudah mereka dimanipulasi oleh mereka yang tidak ingin kehilangan kekuasaannya.
Serangan budaya
Merupakan ciri terakhir dari budaya antidialogis. Dalam hal ini kaum penindas berusaha menyusup dalam suatu kelompok kebudayaan tertentu dan tanpa menghiraukan potensi kebudayaan itu sendiri lalu memaksakan pandangan dunianya sendiri kepada orang-orang yang mereka serang dan menghambat kreativitas kaum terserang dengan mengendalikan ungkapan-ungkapan kejiwaan mereka.
Penaklukan kebudayaan mengakibatkan ketidakmurnian kebudayaan dari mereka yang diserang. Mereka kemudian melayani nilai-nilai dan patokan tujuan kaum penyerang. Agar serangan kebudayaan berhasil makan hal penting adalah membuat kaum terserang yakin akan inferioritas instrinsik mereka. Dengan begitu maka mereka akan mengakui superioritas kaum penyerang.
Ciri-ciri kebudayaan dialogis
Kerjasama
Dalam tahap manapun pada proses revolusi tidak bisa mengesampingkan proses persekutuan yang pada akhirnya akan melahirkan kerjasama yang akan membawa rakyat dan pemimpinnya bersatu dalam satu tujuan. Karena itu kerja sama merupakan salah satu ciri kebudayaan dialogis yang penting untuk dikembangkan.
Persatuan untuk pembebasan
Dalam teori dialogis para pemimpin harus menyerahkan dirinya bagi usaha untuk mempersatukan kaum tertindas. Untuk menciptakan persatuan diantara mereka memerlukan suatu bentuk aksi kebudayaan yang akan membuat mereka mengetahui mengapa dan bagaiman mereka melekat pada realitas. Dengan demikian usaha untuk mempersatukan kaum yang tertindas tidak hanya berakhir pada slogan-slogan saja.
Organisasi
Adalah usaha para pemimpin untuk mengorganisasi rakyatnya dan menuntuk kesaksian dan kesetiaan bahwa persatuan adalah suatu tugas bersama yang harus dijalankan bersama.
Semua kesaksian yang murni bersumber dari pengetahuan sejarah yang memadai, dan kebernaian menempuh resiko, termasuk kemungkinan bahwa pemimpin tidak akan selalu memperoleh dukungan rakyat.
Sintesa kebudayaan
Aksi kebudayaan yang dilakukan harus senantiasa menjadi suatu bentuk yang tindakan yang sistematis dan terencana yang ditujukan pada struktur sosial, baik dengan tujuan melestarikan atau mengubahnya.

REVIEW
Pendidikan kaum tertindas ternyata sangat dipengaruhi oleh bagaimana suatu politik dijalankan oleh para pemimpinnya. Jika pendidikan dijalankan tanpa adanya proses dialogis yang jelas antara pelaksana pendidikan dengan pemimpin yang bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan maka hanya akan melahirkan suatu sistem dominasi kekuasan. Pendidikan akan diarahkan menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan segelintir orang.
Kaum tertindas akan semakin tertindas jika tidak mau meningkatkan kesadaran politiknya. Karena semakin rendah kesadaran politik seseorang maka akan semakin mudah untuk ditaklukan atau dikuasai. Oleh karena itu diperlukan adanya gerakan revolusi yang bersumber dari sikap saling bekerjasama, persatuan dan kesadaran akan pembebasan.
Jika kita bandingkan situasai pendidikan beberapa puluh tahun yang lalu dengan yang sekarang maka pendidikan kaum tertindas itu memang masih ada. Jika dulu penindasan dilakukan oleh para pemimpin dengan cara menerapkan kebijakan-kebijakan pendidikan yang tak bisa dibantah oleh rakyat maka sekarang sebenarnya sama saja hanya dengan cara yang lebih tersamarkan. Sekarang penindasan pendidikan lebih diarahkan pada pengkomersilan pendidikan oleh beberapa pihak yang berkuasa. Pendidikan dibuat mahal dan kerap kali dipolitisir untuk kepentingan suatu pihak.
Pendidikan dibuat mahal dan pada akhirnya hanya mampu diakses oleh golongan tertentu dan membuat kaum tertindas semakin tenggelam dalam keadaannya tanpa pendidikan.


NURLATIFAH MAHFUDZ BK FIP UNJ

Selamat hari anak nasional, awang!

Adalah Awang, fitri dan kawan-kawan anak2 yang setia menjagai sepatu di rak-rak sepatu mesjid Nurul Irfaan Kampusku, UNJ Rawamangun. Awang adalah seorang anak laki-laki usia sekolah dasar yang periang, ingatannya super tajam dan matanya itu loh berseri-seri sekali. Tak nampak kesusahan di wajahnya. Ku kira tak banyak mahasiswa di kampus yang memperhatikan bocah kecil ini, eh ternyata ada salah satu kaka kelasku yang membuat status tentang si Awang ini.

Entah ada berapa Awang di Negara yang katanya angka kemiskinannya sudah semakin menurun tiap tahunnya, entah ada berapa puluh ribu anak yang malah bekerja disaat seharusnya mereka belajar dengan riang di kelas-kelas yang nyaman ditemani guru-guru yang ramah dan welas asih dalam mengajar. Awang-awang lainnya tersebar dipojok-pojok lampu merah mengandalkan suaranya yang bahkan semakin meringkih karena saat pagi menjelang kerongkongannya mungkin belum sempat terbasahi air hangat. Tak ada segelas susu hangat apalagi setangkup roti penuh meses cokelat yang lezat untuk sarapan pagi dari Bunda tercinta. Alangkah banyaknya awang-awang kecil di sekitar kita.

Awang bukannya tak punya cita-cita, siapa yang tahu jika mungkin cita-citanya jauuuuh lebih tinggu dibanding anak anak yang setiap hari duduk manis di jok mobil empuk diantar sopir menuju sekolah yang mewah dan serba wah. Siapa yang tahu jika cita-cita awang jauh lebih mengembang dan melangit dibanding mereka?. Tak ada yang tahu..

Bagi para Awang semuanya hanya soal kesempatan. Dan kesempatan bisa diciptakan layaknya sebuah peluang. Kita bisa menjadi pemantiknya, ledakan gelegak semangat yang kita tangkap darinya. Jangan biarkan ia padam dihembus angin kepasrahan. Ciptakan peluang dan wujudkan dalam amal.

Dan kita, bolehlah sejenak mengarahkan pandangan kepada awang dan teman-temannya...
bantu wujudkan mimpinya, citanya, harapnya.

Awang juga sama seperti anak bangsa lainnya, ingin merdeka dari kebodohan, paripurna dalam ,menikmati masa kanak-kanaknya. Dan kita bisa menjadi pemantik apinya..

Daripada merutuki kegelapan, mari kita nyalakan lilin yang menerangi.

Selamat hari anak Nasional

***
Ipeh dan teman-teman di Garda 3 eduwa unj (education watch unj), beserta kaka2 di departemen pendidikan bem UNJ berencana untuk membantu awang dkk. Soooo, kami sangat mengahrapkan bantuan dari temen-temen juga.

P. S : Yang mau donasi untuk awang dkk, bisa hubungi ipeh, depdik bemj BK, eduwa UNJ, depdik UNJ atau comdev sospol UNJ. Satu buku bisa sangat berarti untuk awang dkk.

Donasi bisa berupa :
- Buku layak pakai (tulis, buku cerita, buku pelajaran SD)
- Alat tulis
-Tenaga untuk mengajar mereka

dll.

Jika kita bisa membantu lebih, marilah kita bantu dengan lebih baik. Jangan hanya membantu dengan selemah-lemahnya iman :)

Selasa, 14 Juni 2011

One of my hope

Tiba-tiba aku menjadi orang yang amat sangat menyebalkan di mata orang-orang. Menjadi seseorang yang tak mampu mengalahkan emosinya yang meluap-luap dan menjadikan airmata sebagai senjata pamungkas yang bisa membuat orang tertegun sejenak ke arahku. Dan mereka ramai-ramai bergumam, " Betapa lemah hai kau gadis !".

Tidakkah aku bisa menjadi lebih dewasa, Duhai Tuhan yang Maha Kuat?. Sebelumnya terima kasih atas segenap rasa kelembutan hati yang telah Kau titip padaku. Itu salah satu artian bahwa hatiku tak sekeras batu. Aku masih bisa menangis, alhamdulillah.

Tapi ku mau tidak selalu menyelesaikan dengan tangisan..
Aku hanya ingin tangisan terdalamku datang atas rasa lemahku sebagai hamba di hadapan ke Maha Besaran Mu Ya Robb.

Jadikan dada ini menjadi lebih kuat, menjadi pribadi yang lebih tangguh.. dan tak terlalu sering menghamburkan airmata untuk sesuatu yang berasal dari selainMu

Senin, 13 Juni 2011

Selamat ulang tahun, oyong :)

Panjang umurnya.. panjang umurnya serta mulia.. serta mulia.. serta muliaaa..

Segala do'a manis terlantun untuk temanku yang manis, semoga hidup yang dijalani bisa semakin manis yaa :)

20 tahun, saatnya ucapkan selamat tinggal pada masa remajamu, nak. Selamat menyambut masa dewasa awal dengan segala tugas perkembangan yg harus dilalui dengan lebih bertanggung jawab. Hidup yang lebih dewasa dan pikiran yang lebih merdeka dan paripurna. Kurangi kekhawatiran-kekhawatiranmu terhadap segala sesuatu; karena kata orang bijak, hidup itu hanya butuh di jalani. ITU SAJA.

Bilangan persahabatan kita mungkin belum sebanyak bilangan usiamu (tenang aja, tepat sebulan lagi gw juga duapuluh tahun koo hehe. Tapi gue harap kisah persahabatan kita akan terus berlanjut melampaui usia-usia kita.
Berharap persahabatan kita yang koclak bisa dilanjutkan sama anak dan cucu kita kelak yah..

Well, semoga lo ga geer yah, but u are one of the best gift from GOD who's send for me selain y6g lainnya.. haha...

Finally, happy birthday yaa yankk.. miss u :)

Renungan Indah WS Rendra

Seringkali aku berkata,

Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini

hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya

Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya

Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya

Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya: mengapa Dia menitipkan padaku???

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???…

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah

kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,

kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua »derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika: aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih. Kuminta Dia membalas »perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah… »ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

Oleh : Willibrordus S. Rendra

Lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 – meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai “Burung Merak”. Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967. Ketika kelompok teaternya kocar-kacir karena tekanan politik, kemudian ia mendirikan Bengkel Teater Rendra di Depok, pada bulan Oktober 1985. Semenjak masa kuliah ia sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.

Banyak yang terlewat

Hallooowww.. Assalamu'alaykum.. hehe.. rumah ini sepi sekali yah. Yup, penghuninya memang sedang asyik main di dunia nyata jadi jarang banget main ke sini.. :)
Sebenernya banyak banget kejadian menarik yang terjadi akhir-akhir ini, namun selalu terlewat untuk diceritakan.. hoho.

Ada rekor baru nih, kemarin-kemarin gue sempet 3 minggu ga pulang ke rumah loh.. tumbenan banget kan. Kemarin saya melancong ke kota cirebon bareng A3 alias aliansi anak azzahrah hehe. Agendanya banyak sekali, tapi utamanya sih menjalankan agenda HPA so semua rangkaian acara sponsored by HPA n pjs Salsa. hihi..
Anyway, cirebon itu penuh makanan enak, mulai dari nasi jamblang de el el.. pokonya betah banget deh di sana... *to be continued deh.. hehe, Ga jelas :)